Kesamaan Aqidah Empat Imam


Aqidah Empat Imam, Abu Hanifah, Malik, Syafi’I, dan Ahmad adalah seperti yang diturunkan oleh
al-Qur’an  dan as-Sunnah Nabi,sesuai dengan apa yang menjadi pegangan para sahabat dan Tabi’in . Tidak ada perbedaan si antara mereka dalam masalah ushuluddin. Mereka justru sepakat untuk beriman kepada sifat-sifat Allah, bahw al-Qur’an itu Kalam Allah bukan mahluk, dan bahwa iman itu memerlukan pembenaran dalam hati lisan.
Mereka juga mengingkari para ahli kalam,seperti kelompok Jahmiyah dan lain-lain yang terpengaruh dengan filsafat  Yunani dan aliran-aliran kalam. Syekhul Islam Imam Ibnu Taimiyah menuturkan, “… Namun rahmat Allah kepada hamba –Nya menghendaki, bahwa para imam yang menjadi panutan umat, seperti imam madzhab empat dan lain-lain, mereka mengingkari para ahli kalam seperti kelompok Jahmiyah dalam masalah al-Quar’an, dan tentang beriman kepada sifat-sifat Allah.
Mereka sepakat seperti keyakinan ulama salaf, dimana antara lain, bahwa Allah itu dapat dilihat di akhirat, al-Qur’an adalah kalam Allah bukan mahluk, dan bahwa iman itu memerlukan pembenaran dalam hati dan lisan,’’
Imam Ibnu Taimiyah juga menyatakan, “ Para Imam yang masyhur  itu juga menetapkan tentang adanya sifat-sifat Allah. Mereka mengatakan bahwa al-Qur’an itu kalam Allah bukan mahluk. Dan bahwa Allah itu akan dapat dilihat di Akhirat. Inilah madzhab para Sahabat dan Tabi’in, baik yang termasuk Ahlul Bait dan yang lain. Dan ini juga madzhab para imam yang banyak penganutnya, seperti imam Malik bin Anas, Imam ats-Tsauri, imam al-Laits bin Sa’ad, Imam al-Auza’I, Imam Abu Hanifah, Imam Syafai’I, dan Imam Ahmad”.
Imam ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang aqidah Imam Syafi’i. Jawab beliau, “ Aqidah Imam syafi’I dan aqidah para ulama salafseperti imam Malik, Imam ats-Tsauri, Imam al-Auza’I bin Hambal, dan Imam Ishaq bin Rahawaih adalah seperti aqidah para imam panutan umat yang lain, seperti Imam al-Fudhail bin ‘Iyadh, Imam Abu Sulaiman ad-Darani, Sahl bin Abdullah at-Tusturi, dan lain-lain. Mereka tidak berbeda pendapat dalam Ushuluddin (Masalah Aqidah). Begitu pula Imam Hanifah, aqidah tetap beliau dalam maslah tauhid, qadar, dan sebagainya adalah sama dengan aqidah para Imam tersebut di atas. Dan aqidah para imam itu adalah sama dengan aqidah para sahabat dan Tabi’in, yaitu sesuai  denngan apa yang dituturkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah”.
Aqidah inilah yang dipilih oleh al-‘Allamah Shadiq Hasan Khan, dimana beliau berkata: “Madzhab kami adalah madzhab ulama salaf, yaitu menetapkan adanya sifat-sifat Allah tanpa menyerukan-Nya dengan sifat-sifat mahluk, dan menyucikan Allah dari sifat-sifat kekurangan tanpa ta’thil (Meniadakan makna dari ayat-ayat yang berkaitan dengan sifat – sifat Allah). Madzhab tersebut adalah madzhab imam-imam dalam islam, seperti Imam Malik bin Anas, Imam Syafi’I, Imam ats-Tsauri, Imam Ibnu al-Mubarak, Imam Ahmad dan lain-lain. Mereka tidak berbeda pendapat dalam masalah Ushuluddin (Masalah Aqidah). Begitu pula Imam Abu Hanifah, beliau sama aqidahnya dengan para imam diatas, yaitu aqidah yang sesuai  denngan apa yang dituturkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah”.


Jabatan...?


Rasulullah bersabda: “Jabatan(kedudukan) pada permulaannya penyesalan, pada pertengahannya kesengsaraan(kekesalan hati) dan pada akhirnyaazab pada hari kiamat”.(HR. Ath-Thabrani)

Apa kita pernah bertanya pada diri kita sendiri,kalau kita ini selalu gak ya mengharapkan jabatan atau kekuasaan..?, Kalau “IYA”. Maka kita termasuk seorang yang memiliki katagori angkuh atau bisa disebut “Gak Tau Diri”.Tapi kalau jawabannya “TIDAK”,kita termasuk orang yang merugi yang tidak memainkan kodratnya sebagai ‘Khalifah fil ardi’.
Lalu Kita harus gimana dong…?. Kita menuju ke TKP (Tempat Kejadian Pembahasan),,hhe

Rasulullah SAW bersabda: “ Pemimpin suatu kaum adalah pengabdi (pelayan) mereka.(HR.Abu Na’im). Yang diartikan , Menjadi Pemimpin yang sesungguhnya tidaklah mudah(ringan) dan juga tidak sulit(berat). Seorang pemimpin itu wajib mempunyai ILMU.dalam bahasa singkatnya, memegang jabatan adalah GAMGAMSUS alias Gampang-Gampang Susah. Sebab, seperti yang dituturkan oleh Nabi kita Muhammad SAW “Pemimpin atau orang yang mempunyai jabatan adalah orang yang harus bias ‘melayani’ mereka yang dipimpin.
Menjadi pelayan hampir tidak diimpikan banyak  orang, karna pelayan itu adalah pekerja(orang yang disuruh). Maka tidak salah jika seorang yang punya jabatan itu merasa cape, tapi tidak boleh mengeluh didepan mereka yang dilayaninya. Melayani merupakan satu aktivitas yang membutuhkan pengorbanan, pengertian, waktu, senyum tulus, kasih saying, dan senantiasa mengikuti apa maunya orang yang kita layani.
Sebaliknya, tidak sedikit orang yang hanya mau dilayani. Sebab dilayani itu enak, karna semua keinginanya bias terpenuhi ibaratnya mereka seperti raja yang menginginkan apa saja yang mereka mau. Cara berfikir seperti ini yang harus dipakai oleh orang yang mengemban jabatan. Kalau saja ini bias dipahami, maka yang berebut jabatan gak akan banyak…
Jabatan merupakan amanat. Memang mudah menerima jabatan apalagi di iming-imingi hal hal yang menggiurkan contonya uang yang melimpah, harta yang banya dan lain sebagainya. Namun belum tentu mudah melaksanakannya. Ada banyak hal yang harus difikirkan salah satu diantaranya, “Apa kita sudah memiliki sifat untuk adil..?”. Apa bila kita tidak sanggup mengemban amanat tersebut, maka kita akan menyesel dan menemui kesengsaraan. Disinilah letak beratnya mengembat suatu jabatan.
Nah dari pembahasan diatas kita simpulkan,,,,,,,
Mau kita punya jabatan apa nggak,hidup harus tetap berjaloan dong dan kalaupun kita punya jabatan, apapun jabatan itu ingatlah itu hanya sebuah pilihan, bukan sesuatu yang haru dibanggakan. Maksudnya pilihan Untuk berbuat sesuatu seperti mendatangkan kebahagiaan dan mendengarkan jerit hati mereka(yang dipimpin) bukan untuk pamer, angkuh, bahkan menyuruh atau memerintah secara paksa. Seandainya kita memahami hal tersebut, maka sari sinilah akan lahir orang-orang kreatif,cerdas serta hasil kerja yang maksimal. Karna kenapa..?, Karna mereka (yang dipimpin) siberi kebebasan untuk mengembangkan dirinya. Dengan demikian, kita sebagai para pemimpin tidak akan mendapat hukuman pada hari perhitungan nanti, “Aamiin”  ^_^

Makna Dua Kalimat Syahadat bag.2

“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah”

Pada makna syahadat bagian satu baru kita bahas makna dari “tidak Ada yang berhak disembah kecuali Allah SWT.sekarang kita akan bahas makna dari “Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah”.
  1. Makna persaksian bahwa Muhammad adalah tusan Allah yaitu membenarkan aa yang dikabarkannya, menta’ati apa yang diperintahkannya, dan menjauhi apa yang dilarang dan diperingatkannya, dan hendak tidak menyembah Allah kecuali dengan papa yang disyari’atkannya.
  2. Nama Nabi Kita adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib Al-Hasyimi Al-Qurasyi SAW memiliki garis nasab aling mulia di kalangan bangsa Arab.
  3. Allah mengutus Nabi kita Muhammad SAW kepada segenap umat mansia \, dan allah mewajibkan seluruh umat manusia agar menta’atinya. Seperti firman Allah: “Katakanlah: Hai Manusia , sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.”(Al-A’raf:158).
  4. Nabi SAW hidup di Makkah Al-Mukarramah. Beliau menyeru kepada tauhid dan penyembahan kepada Allah SWT semata. Selanjutnya beliau hijrah ke Madinah. Disana beliau memerintahkan beberapa hokum islam lainnya.seperti zakat, puasa, jihad dan lainnya. Nabi Muhammad SAW wafat di Madinah dalam Usia 63 tahun.
  5. Barang siapa menyelisih perintah Nabi Muhammad SAW maka dia berhak mendapatkan siksa yang pedih. Seperti firman Allah: “ Maka hendaknya orang-orang yang menyalihi perintah rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.” (An-Nuur:63).
  6. Barang siapa menta’ati Nabi Muhammad SAW maka ia akan mendapatkan kebahagiaan yang sempurna dan kemenangan yang besar. Seperti firman Allah: “Dan Ta’atilah Allah dan rasul ,supaya kamu diberi rahmat.”(Ali-Imran:132)  dan firman Allah “Dan jika kamu ta’at kepadanya (rasul), niscaya kamu mendapat petunjuk.”(An-Nuur:54).

Sedikit Tentang Maher Zain



Sedikit Biografi Maher Zain.....
Kehidupan awal dari Maher Zain 
Keluarganya pindah ke Swedia ketika Maher masih umur delapan tahun, disana ia melanjutkan pendidikannya. Maher mendapat keyboard pertama ketika ia berusia sepuluh tahun. Ia kemudian masuk Universitas dan mendapat gelar sarjana dalam Aeronautical Engineering. Selama masa remajanya, ia senang menghabiskan larut malam di sekolah dengan teman-temannya di mana mereka akan bernyanyi, rap, menulis dan bereksperimen dengan musik.


Profil Maher Zain
Nama                  :  Maher Zain

Tempat Lahir       :  Tripoli, Lebanon
Tanggal Lahir       :  16 maret 1981
Asal                    :  Tripoli
Genre Musik       :  R&B, Musik Jiwa, Musik Pop, Musik Dunia, Musik Akustic
Pekerjaan           :   Penyanyi, Musisi, Penulis Lagu, Komposer

Aktif di Dunia Musik dari tahun 2009 hingga sekarang

Tahun 2009-2010
Pada Januari 2009, Maher Zain mendaftar dan mulai bekerja pada album dengan Awakening Records. Album ini memuncak di nomor 2 di Amazon Album dunia grafik. Melalui album ini, ia memperoleh 8 X platinum pada Malaysia dengan penjualan 120.000 unit. Setelah merilis album ini, dia merilis beberapa versi lain dari album, yang versi perkusi pada 2009 dan Platinum Edition pada 2011.

Tahun 2011 Sampai Detik Ini
Maher Zain mengumumkan bahwa ia telah merilis versi bahasa Indonesia untuk "Insya Allah", setelah merilis versi bahasa Perancis dan Arab bersama dengan video, sambil menambahkan bahwa itu akan menjadi lagu di album kedua.

Fadly dari band Indonesia PADI juga berkontribusi terhadap "Insya Allah" dalam Bahasa Indonesia. Maher juga menyanyikan "For The Rest of My Life" dalam bahasa Indonesia berjudul "sepanjang hidup". Yang dirilis melalui Sony Music Indonesia.
Video musik lain dari Maher dirilis berjudul 'Freedom' pada akhir April tahun ini..

Download Lagu-Lagunya --DISINI--

Makna Dua Kalimat Syahadat bag.1


“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah”

1.   Makna syahadat laa ilaaha illallaah adalah tidak ada Tuhan yang berhak  disembah kecuali Allah.
2.   Ibadah yaitu setiap apa yang dicintai Allah dan diridhaiNya, baik berupa ucapan maupun perbuatan.
3.   Ibadah itu banyak macamnya diantaranya: do’a, Khauf(takut), tawakkal,shalat, dzikir, berbuat baik kepada orangtua dan sebagainya. Dalil do’a adalah : “Dan Tuhanmu berfirman : Berdo’a lah kepadaKu, niscaya akan kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.(Ghafir:60).
Dalil Khauf adalah : “Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka,tetapi takutlah kepadaku jika kamu benar-benar orang yang beriman.”(Ali-Imran:175).
Dalil tawakkal adalah “ Dan kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Al-ma’idah:23).
Dalil shalat adalah: “Dan dirikanlah shalat dan janganlah kalian termasuk orang-orang yang musyrik.”(Ar-Ruum:31).
Dalil Dzikir adalah: “Hai orang-orang yang beriman berdzikirlah (dengan menyebut nama Allah) Allah, Dzikir yang sebanyak-banyaknya.”(Al-Ahzab:41).
Dalil Berbakti kepada ibu bapak adalah : “Dan kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang  (ibu bapak)”.(Al-Ahqaf:15).
4. Semua bentuk ibadah ditunjukan kepada Allah semata yang tidak ada sekutu bagiNya. Barang siapa yang memalingkan suatu bentuk ibadah kepada selain Allah maka dia telah kafir. Seperti firman Allah: “ Dan barang siapa menyembah Tuhan yang lain disamping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya disisi Thannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.”(Al-Mu’minun:117).
5.  Allah menciptakan Jin dan Manusia agar beribadah kepadaNya semata. Seperti firman Allah: “Dan tidaklah Aku ciptakn jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaKu.”(Adz-Dzariyat:56).
6. Barang siapa beribadah kepada Allah dengan sesungguhnya maka ia akan mendapatkan kebahagiaan dan kegembiraan yang besar serta kehidupan yang baik. Seperti firman Allah: “barang siapa mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan berfirman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.”(An-Nahl:97).
Bersambung hhe…… 

TIGA LANDASAN MENGENAI TAUHID KITA


A. Landasan Pertama Yaitu Mengenal Tuhan Kita


  1. Tuhan kita adalah Allah SWT, Pencipta Langit dan Bumi. Seperti firman Allah: “Sesungguhnya Tuhan kami ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi “(Al-A’raf:54)
  2. Tuhan kita adalah Allah yang menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, Seperti firman Allah: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”(At-Tiin:4).
  3. Tuhan kita adalah Allah yang mengatur segala urusan. Seperti firman Allah: “Dia mengatur Urusan dari langit ke bumi”(As-Sajdah:5).
  4. Allah menciptakan jin dan manusia agar mereka menyembah kepada-Nya. Seperti firman Allah: “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia ,elainkan agar mereka menyembah kepadaKu. (Adz-Dzariyat:56).
  5. Allah SWT memerintahkan kita agar mengingkari thaghut dan berfirman kepada Allah. Seperti firman Allah: “Maka barang siapa yang ingkar kepada thaghut dan berfirman kepada Allah maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada al ‘urwatul wutsqa(buhul tali yang amat kuat).”(Al-Baqarah:256).

B. Landasan Kedua adalah Mengenal agama kita,Yaitu agama Islam



  1. Agama kita adalah agama islam Allah tidak menerima agama selain dari padanya. Seperti firman Allah: “Barang siapa yang mencari agama selain agama islam maka sekali-kali tidaklah akan diterima(agama itu) daripadanya”.(Ali-Imran:85).
  2. Tingkatan Dien(agama) itu ada tiga yaitu:
  • - Islam
Yaitu Berserah diri kepada Allah Ta’ala sengan mentauhidkanNya, tunduk kepadanya dengan keta’atan serta berlepas diri dari syirik dan para pelakunya.
  • - Iman
Yaitu engkau percaya kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya,para rasulNya,hari akhir dan percaya kepada takdirNya, yang baik maupun yang buruk.
  • - Ihsan
Yaitu engkau menyembah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya, dan jika engkau tidak melihatNya maka sesungguhnya Dia melihatmu.

C. Landasan Ketiga yaitu Mengenal Nabi Kita Muhammad SAW.



  1. Beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib Al-Hasyimi Al-Qurasyi SAW. Beliau adalah Nabi yang paling Mulia dan penutup para Nabi.
  2. Nabi Muhammad SAW telah menyampaikan agama ini(islam).Beliau memerintahkan kepada kita agar melakukan segala bentuk kebaikan dan melarang kita dari segala bentuk kejahatan .
  3. Kita wajib meneladani Nabi kita Muhammad SAW. “Dan telah ada teladan yang baik bagimu pada diri Rasulullah.”(Al-Ahzab:21).
  4. Kita wajib mendahulukan kecintaan kepada Nabi kita Muhammad SAW daripada kecintaan kita kepada ibu, bapak dan segenap manussia. RasulullahSAW bersabda: “ Tidaklah (sempurna) iman salah seorang dari kamu sehingga aku lebih ia cintai daripada orangtuanya, anaknya dan segenap manusia.” (HR.Al-Bukhari dan Muslim).
Sedangkan yang dimaksud dengan kecintaan Nabi Muhammad SAW adalah dengan mengikuti dan menta’atinya... 

Sejarah Berdirinya Ka'bah



Allah SWT telah memerintahkan Nabi Ibrahim as untuk membangun Baitul ‘Atiq, yaitu masjid yang diperuntukkan bagi manusia untuk mereka menyembah Allah SWT.
Allah kemudian menunjukkan kepada Nabi Ibrahim as, di mana hendaknya bangunan tersebut dibangun. Allah menunjuki Nabi Ibrahim lewat wahyu yang diturunkan kepadanya.
Para ulama salaf mengatakan bahwa di setiap tingkat langit terdapat sebuah rumah. Penduduk langit tersebut beribadah kepada Allah di rumah tersebut. Oleh karena itulah, Allah  SWT memerintahkan Nabi Ibrahim as membuat bangunan seperti itu pula di muka bumi.

…. Tadi cuma  opening ceritanye aje sekarang,kite lanjut ke intinye…..

Dahulu, Nabi Ibrahim as membawa istrinya Hajar dan putra beliau Ismail ke daerah Makkah. Pada saat itu, Hajar dalam keadaan menyusui putranya.
Nabi Ibrahim as kemudian menempatkan Hajar dan Ismail ke sebuah tempat di samping pohon besar. Pada saat itu, di tempat tersebut tidaklah terdapat seorang pun dan tidak pula ada air. Nabi Ibrahim kemudian meninggalkan keduanya beserta geribah yang di dalamnya terdapat kurma, serta bejana yang berisi air.
Ketika Nabi Ibrahim as hendak pergi, Hajar mengikuti beliau seraya bertanya, “Wahai Ibrahim, ke manakah engkau akan pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami padahal di lembah ini tidak terdapat seorang pun dan tidak ada makanan apa pun?”
Hajar mengucapkannya berkali-kali, namun Nabi Ibrahim tidak menghiraukannya. Hajar kemudian bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkan engkau berbuat ini?” Nabi Ibrahim kemudian menjawab,“Iya.” Hajar lalu berkata, “Dia tidak akan membiarkan kami.” Hajar kemudian kembali.
Di daerah Tsaniah, ketika sosok beliau hilang dari pandangan keluarga yang beliau tinggalkan, Nabi Ibrahim berdoa,
“Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Rabb Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”
 

Ketika persedian air mereka habis, Hajar pun mencari air untuk dia dan putranya. Dia pergi ke bukit Shafa, mencari-cari adakah orang di sana, namun dia tidak menemukan siapa pun di sana.
Hajar pun kemudian pergi ke Marwah dan mencari-cari orang pula di sana. Dia juga tidak mendapati seorang pun.
Hajar berulang-ulang pergi dari Shafa ke Marwah, sebaliknya dari Marwah ke Shafa sampai tujuh kali. Oleh karena itu, di dalam ibadah haji ada yang namanya Sai, yaitu berlari-lari kecil dari Shafa ke Marwa dan sebaliknya sampai tujuh kali.
Sampai ke Marwah, Hajar mendengar suara. Lalu dia berkata, “Diamlah”. Dia mendengar suara itu, lalu mencari sumber suara itu dan berkata, “Aku telah mendengarmu, apakah engkau dapat memberikan bantuan?”
Ternyata dia berada bersama malaikat di tempat di mana terdapat air zam-zam. Lalu, malaikat itu mengais-ngais tanah hingga akhirnya muncul air. Selanjutnya, ia pun menuruni air tersebut, mengisi bejananya dan kembali ke putranya Ismail, kemudian menyusuinya.
Malaikat lalu berkata kepada Hajar, “Janganlah engkau takut disia-siakan, karena di sini akan dibangun sebuah rumah oleh anak ini dan bapaknya. Dan sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan keluarganya”
Setelah beberapa waktu berlalu, serombongan suku Jurhum datang ke tempat tersebut dan tinggal di sekitar air zam-zam bersama Hajar dan Ismail. Ini semua mereka lakukan atas izin dari Hajar.
Nabi Ismail as pun beranjak dewasa dan belajar Bahasa Arab dari Suku Jurhum tersebut. Beliau juga menikah dengan salah seorang wanita mereka. Diceritakan pula bahwa Hajar kemudian meninggal dunia.
Pada suatu saat, Nabi Ibrahim as datang ingin menjenguk Nabi Ismail as. Namun, beliau hanya menemui istri Nabi Ismail as saja.
Nabi Ibrahim as bertanya kepada wanita tersebut ke mana kiranya Nabi Ismail as pergi. Istrinya menjawab, “Dia sedang mencari nafkah untuk kami.”
Nabi Ibrahim as lalu bertanya tentang keadaan mereka. Istri Nabi Ismail as menjawab, “Kami dalam kondisi yang jelek dan hidup dalam kesempitan dan kemiskinan.”
Mendengar jawaban tersebut, sebelum pulang Nabi Ibrahim as berpesan kepada wanita itu untuk menyampaikan salam kepada Nabi Ismail as dan berpesan agar Nabi Ismail as mengganti pegangan pintunya.
Setelah Nabi Ismail as kembali ke rumah, istrinya pun menceritakan peristiwa tadi dan menyampaikan pesan Nabi Ibrahim as kepada suaminya.
Mendengar hal tersebut, Nabi Ismail as pun berkata kepada istrinya, “Itu tadi adalah bapakku. Ia menyuruhku untuk menceraikanmu, maka kembalilah engkau kepada orang tuamu.”
Nabi Ismail as pun menceraikan istrinya tadi sesuai dengan pesan Nabi Ibrahim as dan kemudian menikah lagi dengan seorang wanita dari Bani Jurhum juga.
Setelah beberapa waktu berlalu, Nabi Ibrahim as kemudian kembali mengunjungi Nabi Ismail as. Namun, Nabi Ismail as tidak ada di rumah. Nabi Ibrahim as pun menemui istri Nabi Ismail as yang baru.
Beliau bertanya dimana Nabi Ismail as sekarang. Istrinya menjawab bahwa Nabi Ismail as sedang mencari nafkah.
Nabi Ibrahim as juga bertanya tentang keadaan mereka. Wanita itu menjawab bahwa keadaan mereka baik-baik saja dan berkecukupan, sambil kemudian memuji Allah azza wa jalla.
Nabi Ibrahim as lalu bertanya tentang makanan serta minuman mereka. Wanita itu menjawab bahwa makanan mereka adalah daging, adapun minuman mereka adalah air. Maka Nabi Ibrahim as mendoakan kedua hal ini, “Ya Allah berkatilah mereka pada daging dan air.”
Setelah itu, Nabi Ibrahim as pun pergi dari rumah Nabi Ismail as. Namun, sebelumnya beliau berpesan kepada wanita itu agar Nabi Ismail as memperkokoh pegangan pintunya.
Ketika Nabi Ismail as pulang, beliau bertanya kepada istrinya, “Adakah tadi orang yang bertamu?”
Istrinya menjawab,Ada, seorang tua yang berpenampilan bagus.” Dia memuji Nabi Ibrahim as
“Ia bertanya kepadaku tentang dirimu, maka aku jelaskan keadaanmu kepadanya. Dia juga bertanya tentang kehidupan kita, dan aku jawab bahwa kehidupan kita baik-baik saja.”
Nabi Ismail as kemudian bertanya, “Apakah dia memesankan sesuatu kepadamu?”
Istrinya kembali menjawab, “Ya. Ia menyampaikan salam kepadamu dan menyuruhku mengokohkan pegangan pintumu.”
Nabi Ismail as berkata, “Itu adalah ayahku dan engkau adalah pegangan pintu tersebut. Beliau menyuruhku untuk tetap menikahimu (menjagamu).”
Waktu pun berlalu. Suatu saat ketika Nabi Ismail as sedang meraut anak panah, Nabi Ibrahim as pun datang. Nabi Ismail as pun bangkit menyambutnya, dan mereka pun saling melepaskan rindu.
Selanjutnya, Nabi Ibrahim as berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya Allah menyuruhku menjalankan perintah.”
Nabi Ismail as menjawab, “Lakukanlah apa yang diperintahkan Rabbmu.”
“Apakah engkau akan membantuku?”, Tanya Nabi Ibrahim as kembali.
“Aku pasti akan membantumu.” seru Ismail.
Nabi Ibrahim as kemudian menunjuk ke tumpukan tanah yang lebih tinggi dari yang sekitarnya. Beliau berkata, “Sesungguhnya Allah menyuruhku membuat suatu rumah di sini.”
Pada saat itulah, keduanya kemudian meninggikan pondasi Baitullah. Ismail mulai mengangkut batu, sementara Ibrahim memasangnya.
Setelah bangunan tinggi, Ismail membawakan sebuah batu untuk menjadi pijakan bagi Nabi Ibrahim. Batu inilah yang akhirnya disebut sebagai maqam (tempat berdiri) Nabi Ibrahim.
Mereka pun terus bekerja sembari mengucapkan doa, “Wahai Rabb kami terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.
Sampai akhirnya tuntaslah pembangunan baitullah itu. Ka’bah pun akhirnya berdiri di bumi Allah ‘azza wa jalla.

 
Assalamualaikum © 2010 | Designed by Chica Blogger & editted by Blog Berita | Back to top